BELAJAR DARI MONYET

(Somporn di Thailand Selatan)

Bangun Sitohang

Pendidikan harus bermula dalam riset dan berakhir dalam riset. Pendidikan yang tidak dimulai dengan inisiatif dan berakhir dengan inisiatif pastilah keliru, sehingga apa yang diterapkan guru somporn dalam mendidik monyet-monyet adalah inisiatif dan riset yang dilakukan secara teratur dan disiplin sehingga mampu membentuk monyet-monyet dengan perilaku yang membantu kemajuan masyarakat sekitar Thailand Selatan menjadi lebih maju dari kemampuan tenaga manusia khususnya dalam peningkatan jumlah pengadaan buah kelapa dari pohonnya. Dalam kacamata ekonomi prinsip pengajaran yang dilakukan Somporn mengilhami adanya penghematan tenaga dan biaya sehingga tercipta istilah efisiensi dan efektivitas dari hasil proses pembelajaran, meskipun monyet tersebut pada akhirnya adalah diciptakan sebagai budak kerja saja.

1. Konsep pendidikan

Secara ekstrem bahwa konsep pendidikan yang digambarkan Somporn adalah konsep menciptakan budak-budak dalam dunia kerja, padahal maksud dari pendidikan secara prinsip adalah untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak didik menjadi orang yang berpengetahuan dan mandiri dalam melakukan segala usaha untuk menghadapi dinamika hidup yang cenderung berubah-ubah. Pendidikan bersifat dinamis seiring dengan perkembangan intelektual manusia, oleh karenanya penekanan Somporn lebih mengarah pada konsep guru dalam memberikan ilmu pengetahuan terhadap anak didik. Konsep Somporn dalam pengajaran sangat berkait dengan aliran pedagogic yang diutarakan Derrida yang mengasumsikan bahwa fungsi pendidikan adalah membina pribadi-pribadi yang bebas menyatakan pendapatnya sendiri dalam berbagai perspektif. Individu yang diinginkan adalah individu yang kreatif, produktif dan berpikir bebas. Artinya siswa harus diperlakukan sebagai seorang manusia yang punya hatinurani sehingga perlu disentuh secara manusiawi dengan kasih sayang dan guru dituntut hidup dengan pemikiran tujuan pendidikan dan termasuk juga masalah sosial dan ilmu pengetahuan, sebagai realisasi atas pengalaman, refleksi dan praktek pendidikan.

2. Filsafat dan budaya kaku

Budaya adalah aktivitas berpikir dan keindahan, perasaan manusia. Dari budaya lahir filsafat dan nilai seni. Menurut thesis pendidikan bahwa pengembangan intelektual adalah pengembangan diri yang umum pada manusia usia 16 tahun dan 30 tahun. Ide anak-anak masih dianggap kaku dan perlu terus dicoba agar matang. Kegiatan sekolah dinilai bersifat rutinitas dan lambang kesombongan, karena idenya kaku dan menjemukan, maka perlu revolusi intelektual. Ada cara pembinaan pendidikan : jangan mengajar dengan subjek berlebihan; ajarkan sesuai kebutuhan anak. Pendidikan awal bagi anak harus diciptakan sesuai realitas hidup anak dan “joyful” atau utilising, sehingga berkait dengan aliran pikiran, persepsi, perasaan, pengharapan, keinginan, aktivitas mental, penyesuaian pikiran yang membentuk kehidupan. Ide akan dianggap berharga jika maknanya bisa membuktikan kebenaran, sebab kebenaran menciptakan logika dan menjadi pelindung ide tersebut, disamping itu bahwa pendidikan adalah akuisisi seni penggunaan pengetahuan yang terwujud dalam teori ide dalam pengajaran sesuai kurikulum. Untuk menghindari kekakuan diperlukan menjaga pengetahuan hidup terus, inilah masalah sentral dalam pendidikan. Disini diperlukan guru jenius, pengenalan tipe murid, prospek hidup, peluang disekitar sekolah yang dilakukan dengan Instrumen “mind”. Inilah pesan utama yang diinginkan Samporn dalam pendidikan yang diterapkan pada monyet-monyet. Dengan keyakinannya ia menjamin kualitas tamatan dari sekolah monyet yang didirikannnya. Samporn menjamin kualitas setiap lulusannya, namun pertanyaannya adalah beranikan guru-guru kita dengan konsep yang ditawarkan oleh Samporn? Inilah tantangan pendidikan masa kini antara filsafat dan pendidikan dalam budaya pembelajaran yang kaku.

3. Memahami makna pendidikan

Pendidikan memerlukan pendekatan secara kealamiahan manusia, apa itu ? yaitu faktor psikologis, karena untuk mendidik anak diperlukan pemahaman atas tingkah laku. Disinilah perlu ada aliran behaviorisme. Aspek psikologis dianggap mengurangi pembahasan aspek sifat alamiah manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa sifat manusia sama dalam semua waktu dan tempat. Sedangkan pendapat lain menentang karena individu dibedakan atas: Lingkungan waktu dan tempat, Sifat bawaan dan kemampuan. Manusia terdiri atas pikiran dan jasad, jiwa dan daging (main, and body, spirit, dan flesh). Pembagian pikiran dan jasad adalah pembagian hidup dan mati hal ini dinamakan realitas tubuh yang berkembang sendiri. Aktivitas pribadi yaitu membentuk tujuan, keputusan, tanggung jawab atas konsekuensinya, disinilah lahir “mind or spirit”. Maka dikaitkan dengan keperluan pendidikan aspek manusia dilihat sebagai “mind” dan “spirit” bukan matter melainkan immaterial. Mind itu sendiri sebagai kesatuan (entity) yang membentuk central core selfhood (seperti rasa senang dan duka, persepsi dan mengingat, berpikir dan merasa). Pemikiran dualistik memunculkan psikologi pendidikan dengan mendasar pada: rasionalisasi, yang dilihat melalui gejala mental dan dinamikanya yaitu untuk melatih pikiran. Spirit atau body mind untuk mengaktifkan sistem syaraf (jasad) sehingga pendidikan dipandang sebagai matter of self activity or self development anak didik.

Cara-cara pembelajaran yang dilakukan Somporn terhadap monyet dalam membentuk sifat monyet dari yang tadinya dikucilkan oleh tuannya kemudian dapat diisi dengan keterampilan membuktikan bahwa pendidikan pada dasarnya memerlukan sebuah sentuhan kasih sayang serta latihan yang teratur dengan tetap menyediakan ruang dan waktu untuk pengembangan mental anak didik. Aliran fungsionalisasi (Durkheim) dalam rangka mempersiapkan masyarakat masa depan menjadi anutan Sormporn dalam proses pembelajaran untuk membentuk karakter monyet sehingga terbentuk sikap baru dari yang tadinya malas dan tidak punya keahlian kemudian menjadi aktif membantu tuannya untuk menurunkan buah kelapa dengan jumlah yang lebih besar di banding dengan kemampuan manusia biasa. Proses belajar yang dilakukannya juga tetap mempertahankan tatanan social yang ada seperti memajukan usaha tani masyarakat di kawasan Thailand Selatan. Sormporn cenderung membentuk proses belajar mengajar dengan memperhatikan factor psikologis dan biologis dan tidak mempertimbangkan dampak kemajuan iptek dalam risetnya, sehingga yang terbentuk adalah pola berpikir yang statis dan watak budak dalam setiap hasil didikannya, lantas apa kita akan memerapkan konsep Somporm dalam pendidikan manusia ? perlu renungan mendalam.